Home » 2013 » October

INNOVADUCATION: seri #1BELAJAR TENSES PRAKTIS

innovaducation #1Sebagaimana yang kita ketahui, tenses merupakan  aturan yang mengatur perubahan bentuk kata kerja (Verb) untuk disesuaikan dengan waktu yang digunakan. Oleh karena itu, poin kunci dalam pembelajaran tenses adalah kata kerjanya. Namun, aturan ini digunakan pula dalam kalimat non verbal alias kalimat nominal. Nah, untuk lebih jelasnya, di bawah ini disajikan tabel lengkap perbandingan 16 tenses beserta dengan fungsi dan bentuk pasifnya. Mengapa kita harus mengetahui fungsi dalam penggunaan tenses? Ibarat seorang nelayan yang ingin menyeberang sungai, tentu dia sudah punya cara bagaimana dia akan menyeberang sungai tersebut.  Dalam mengimplementasikan tenses dalam bahasa, tentu kita punya patokan kapan kita harus menggunakan baik itu present tense, past tense, future tense, dan sebagainya.

silahkan download materinya di bawah ini, semoga berkah dan bermanfaat!

INNOVADUCATION- TENSES fix

Let’s Start a New Brighter Life!

“Learn to enjoy every minute of your life… Be happy now; don’t wait for something outside of yourself, to make you happy in the future. Think how really precious is the time you have to spend…” –Unknown

These are the words I got several years ago from the cover of a book. We can see that those words are very inspiring. It is important for us to manage ourselves, especially our minds and our hearts to represent our thanks to Allah by enjoying every minute of our lives.
When we feel happy, we will feel comfort inside automatically. By enjoying our present time, we feel that our lives become more meaningful. If we enjoy today, this day will be a nice memory for tomorrow. Whatever what we get today, let’s give the best from us.

There are some tips to make our time to be a precious time:
1.    Positive Thinking and Positive Feeling
“But most of them follow nothing but fancy; truly fancy can be of no avail against truth. Verily Allah is well aware of all that they do.” (Yunus/Jonah:36)
Truly fancy can be of no avail against the truth; there is no benefit for fancy or vague opinion. So, it’s the time for us to be more accurate facing something. Don’t let our minds judge something is good or bad before we know the truth.
When we want to do something, just do it while that is not a bad thing to do. Try to understand ourselves and grow up our confidents to explore and deliver our minds. Make ourselves to be a kind person, at least to be kind ourselves.

2.    Keep Trying and Keep Praying
“Better try than never, better late than never. A champion is someone who gets up when they can’t.”
If we have an expectation or we want to get something, we need to try and ensure ourselves that what we have to do first is just try it. But we have to realize that not all of our expectation can be realized. What we have to do are try it and then leave it to God. That’s it. So we have to release our mind from any worries.
 

3.    Life is Like a Line
Line consists of several dots. That is so we build the journey of life from our experiences. Never mind about the result, because life is a process.
Win or lose, fail or succeed, that are not the real final point to determine our success.

Those are only some points to make our time to be a precious time and to make our activities more meaningful in this life. Just remember; when we failed to plan, we plan to fail.

‘Go easy on yourself; for the outcome of all affairs is determine by Allah’s decree. If something is meant to go elsewhere, it will never come your way. But if it is yours by destiny, from you it cannot flee.” –Umar bin Khattab r.a.

Pendidikan Keluarga; Solusi Bagi Pendidikan Karakter di Indonesia

Pendidikan Keluarga; Solusi Bagi Pendidikan Karakter di Indonesia

Education is the main sector of national development. It is important for the government to take care in this sector because education is the only way to give the young generation knowledge and to share experience as the next leader in the future. Unfortunately, there are many unsolved problems faced by Indonesia and those problems are very complex. Indonesia needs an alternative education to improve national education quality, and the simplest way is start from the family.

Keywords:  education, development, family, character

family education

Pendidikan merupakan salah satu masalah pokok yang dihadapi Indonesia sampai sekarang. Banyak data dari berbagai sumber yang menunjukkan bahwa pendidikan di Indonesia masih di bawah standar dibanding negara-negara lain. Berbagai sumber itu misalnya dari UNESCO, PERC, dan Balitbang.

Keadaan ini sungguh memprihatinkan mengingat masih banyak masalah-masalah yang dihadapi menyangkut dengan masalah pendidikan, misalnya pengangguran, eksploitasi anak di bawah umur (human traffic in), dan kurangnya SDM yang berkualitas dan terdidik. Selain itu ada pula masalah-masalah lain seperti mahalnya biaya pendidikan, sarana-prasarana pendidikan yang belum memadai, dan masih banyaknya daerah-daerah terpencil yang belum dijamah pendidikan secara menyeluruh. Hal ini membuktikan bahwa pendidikan di Indonesia masih jauh dari taraf kelayakan.

Beberapa data dari berbagai sumber tersebut antar lain:

1.    Data dari UNESCO (2000) tentang peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala yang menunjukkan, bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Di antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke-102 (1996), ke-99 (1997), ke-105 (1998), dan ke-109 (1999).

2.    Survei Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Posisi

Indonesia berada di bawah Vietnam.

3.    Data yang dilaporkan The World Economic Forum Swedia (2000), Indonesia memiliki daya saing yang rendah, yaitu hanya menduduki urutan ke-37 dari 57 negara yang disurvei di dunia. Dan masih menurut survai dari lembaga yang sama Indonesia hanya berpredikat sebagai follower bukan sebagai pemimpin teknologi dari 53 negara di dunia.

4.    Kualitas pendidikan Indonesia yang rendah itu juga ditunjukkan data Balitbang (2003) bahwa dari 146.052 SD di Indonesia ternyata hanya delapan sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Primary Years Program (PYP). Dari 20.918 SMP di Indonesia ternyata juga hanya delapan sekolah yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Middle Years Program (MYP) dan dari 8.036 SMA ternyata hanya tujuh sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Diploma Program (DP).

5.    Di tahun 2006, Program for International Student Assessment (PISA), yang menilai seberapa baik kesiapan siswa berumur 15 tahun dalam menghadapi kehidupan, Indonesia mendapat peringkat 50 dari 57 negara dalam bidang ilmu pengetahuan, membaca dan matematika.

Perlu disadari bahwa masa depan Indonesia sepuluh tahun mendatang bertumpu pada generasi muda saat ini. Ironisnya masih banyak kita jumpai berbagai masalah kecil namun mendasar di kalangan masyarakat, seperti banyaknya anak putus sekolah gara-gara tidak sanggup membayar biaya sekolah, pengangguran karena masyarakat tidak punya keterampilan khusus sebagai bekal kehidupan mereka, dan banyak pula daerah terpencil yang masih sulit dijangkau karena masalah transportasi. Data dari Pusat Penelitian Ekonomi LIPI menunjukkan bahwa jumlah pengangguran di Indonesia tahun 2007 sebanyak 12,6 juta jiwa. Sementara data dari BPS pada bulan Agustus 2007, terdapat 10,01 juta (5%) pengangguran di Indonesia. Belum lagi masalah alokasi belanja pendidikan secara keseluruhan yang masih kurang meskipun telah terjadi peningkatan, Lalu bagaimana wajah Indonesia sepuluh tahun setelah ini? Masihkah Indonesia akan bertahan dengan keadaan seperti ini? Sampai kapan? Bagaimana pula wajah pemimpin Indonesia sepuluh tahun mendatang jika keadaan ini belum segera dibenahi dan menjadi sorotan pemerintah?

Permasalan pendidikan Indonesia sangat kompleks dan membutuhkan berbagai pemecahan dan solusi, bukan sekedar wacana. Hal ini akan sangat berpengaruh kuat terhadap karakter bangsa di masa yang akan datang. Pendidikan bukan hanya sekedar formalitas. Pendidikan diarahkan agar masyarakat mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang berguna bagi kesejahteraan hidup mereka. Masyarakat harus sadar bahwa persaingan global menuntut manusia untuk lebih tanggap terhadap perubahan zaman.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa kekurangan-kekurangan seperti yang disebutkan di atas merupakan tanggung jawab pemerintah dan pemerintah pun sudah memberikan beberapa alternatif untuk mengatasi masalah tersebut. Ada berbagai program yang dikembangkan dan sudah dilaksanakan, misalnya program BOS (Bantuan Operasional Siswa) yang berjalan sejak tahun 2005. program ini telah menyediakan hibah untuk setiap siswa ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. BOS merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam menyediakan pendidikan berkualitas kepada semua siswa di seluruh tingkat pendidikan.

Menilik dari berbagai permasalahan dan kendala seperti yang dipaparkan di atas, pendidikan alternatif sangat diperlukan bagi pengembangan  dan peningkatan karakter pendidikan di Indonesia. Pendidikan alternatif mengedepankan masyarakat atau lingkungan sebagai subyek pendidikan dalam sebuah institusi sekolah dan kelas yang didesain menjadi wahana hidup yang nyata. Sekolah alternatif memberikan peluang yang lebih besar untuk belajar bagi setiap siswa secara efektif. Di Indonesia sendiri pun sudah berkembang pola pendidikan alternatif seperti itu. Sebagai contoh yakni sekolah alam, homeschooling/unschooling, school at home, sekolah wirausaha, dan lain-lain.

Namun, di luar itu semua, pendidikan dalam keluarga sangat penting ditanamkan oleh orang tua kepada anak-anak mereka. Pendidikan tersebut yang utama adalah berupa moral, agama, dan sopan santun. Untuk itu, para calon orang tua pun harus memiliki bekal pengetahuan yang matang dalam upaya memberikan pendidikan bagi anak-anaknya. Alangkah baik jika para orang tua juga mendapat penyuluhan-penyuluhan dalam memberikan bimbingan dan asuhan kepada anak-anak mereka, dan itu bisa mereka dapat dari berbagai kegiatan yang diadakan di desa maupun kota. Selain itu para orang tua juga dapat mencari informasi di berbagai media baik cetak, televisi, internet, maupun media yang lain. Tujuannya agar mereka mempunyai kemampuan yang luas dalam mendidik anak-anak mereka agar menjadi calon penerus bangsa yang berkualitas.

Pendidikan keluarga ini diharapkan juga dapat menjadi pengganti dari pendidikan karakter yang belum diterapkan pada pendidikan-pendidikan formal di Indonesia pada umumnya. Untuk selanjutnya, pendidikan orang tua dan pendidikan karakter menjadi PR bagi pemerintah yang diharapkan dapat segera direalisasikan untuk melengkapi dan menyempurnakan pendidikan yang di Indonesia.