Home » 2013 » December

PENGUMUMAN UAS SIBI

Materi UAS SIBA Bahasa Inggris tahun Januari 2014 adalah sebagai berikut:

08102010365

Materi Reading yakni dari “A LETTER TO NEXT-DOOR NEIGHBOUR” (Lesson 7) sampai dengan  “NOBODY HAD BELIEVED IT WAS POSSIBLE” (Lesson 11)

Materi Grammar (STRUCTURE)

  • PRESENT PERFECT Tense
  • PAST CONTINUOUS Tense
  • FUTURE CONTINUOUS Tense
  • QUANTITY Words
  • MODAL  Auxiliaries
  • PAST PERFECT Tense

InnovaDucation #2 : Perpaduan Pembelajaran Bahasa Inggris dengan Seni

Belajar bahasa Inggris ada kalanya tidak harus di dalam kelas dengan konsentrasi penuh dan mendengarkan penjelasan guru dengan seksama mengenai grammar, tenses, dll secara teoritis. Mari kita coba membuat belajar bahasa itu lebih fun and easy,  tak terkecuali belajar Bahasa Inggris. Salah satu cara yang dapat diterapkan yakni menggunakan lagu sebagai media pembelajaran. Dengan metode mendngarkan lagu, selain dapat mengasah kemampuan listening, dapat pula menambah pebendaharaan kata alias vocabulary kita. Selain itu, kita dapat pula belajar spelling dengan baik sesuai spelling yang ada pada lagu. Tentu saja kita harus memilih lagu yang positif ya, biar belajarnya dapat benar-benar meningkatkan kualitas kita dalam berbahasa.

Nah, berikut ini adalah contoh lagu yang dapat kita gunakan sebagai media pembelajaran kita, judulnya I Believe I Can Fly, lagunya R Kelly. Tapi di sini coba kita pakai yang penyanyinya Westlife.

Download lagunya di sini:

Westlife I Believe I Can Fly

Untuk lirik lagunya sudah disediakan di bawah ini. Namun untuk memaksimalkan belajar listeningnya, sebaiknya download liriknya setelah belajar ya!

“I Believe I Can Fly”

I used to think that I could not go on
And life was nothing but an awful song
But now I know the meaning of true love
I’m leaning on the everlasting arms

If I can see it, then I can do it
If I just believe it, there’s nothing to it

[Chorus:]
I believe I can fly
I believe I can touch the sky
I think about it every night and day
Spread my wings and fly away
I believe I can soar
I see me running through that open door
I believe I can fly
I believe I can fly
I believe I can fly

See I was on the verge of breaking down
Sometimes silence can seem so loud
There are miracles in life I must achieve
But first I know it starts inside of me, oh

If I can see it, then I can be it
If I just believe it, there’s nothing to it

[Chorus]

Hey, cause I believe in me, oh

If I can see it, then I can do it (I can do it)
If I just believe it, there’s nothing to it

[Chorus]

Hey, if I just spread my wings
I can fly
I can fly
I can fly, hey
If I just spread my wings
I can fly-eye-eye-eye
Hum, fly-eye-eye

Selamat Belajar Somoga Sukses!

GreenTrepreneur : Gerakan Peduli Lingkungan

lets-go-green-the-archangel-collection-1600by1200-300x225Pernahkah Anda melihat dan merasa risih, menyayangkan, ataupun geram terhadap keadaan lingkungan di sekitar rumah kita begitu memprihatinkan? Banyak kita jumpai di sungai-sungai, kolong jembatan, gorong-gorong, lapangan, bahkan pekarangan rumah, berbagai macam sampah dan limbah mencemari lingkungan. Sungguh hal tersebut sangat disayangkan, dan kita sebagai umat Muslim seharusnya ikut menyikapi hal ini.

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa adanya sampah dan limbah dapat berpengaruh luas terhadap kehidupan manusia. Pengaruh-pengaruh tersebut ibarat efek domino yang saling mempengaruhi. Pernahkah kita memikirkan dampak panjang dari tindakan kecil, semisal ada satu orang yang tinggal di dekat sungai dan terbiasa membuang sampah di sungai? Misalkan jika orang tersebut dalam sehari rata-rata membuang 1 kilogram sampah non organik bungkus plastik, botol kemasan, pecahan kaca, dll) maka dalam seminggu akan ada 7 kilogram sampah di bibir sungai yang sudah menumpuk. Jika hujan tiba, sungai akan meluap, dan sampah-sampah tersebut akan hanyut terbawa arus sungai. Sebagian sampah tersebut jika tidak hanyut terbawa arus sungai, akan menumpuk dan menggunung di tempat tersebut. Jika dibiarkan, maka akan timbul berbagai penyakit, salah satunya adalah penyakit kulit dan penyakit pes yang ditularkan oleh tikus.

Dampak lanjutan yang lebih panjang dari kebiasaan membuang sampah adalah terjadinya banjir. Sampah-sampah plastik beraneka bentuk, kaleng, popok bayi, kasur bekas, kayu-kayu lapuk, botol minuman, bahkan ada pula satu kresek besar berisi campuran sampah yang telah membusuk banyak terlihat mengapung di aliran sungai- sungai di sekitar kita. Bayangkan jika hampir sebagian besar orang mempunyai kebiasaan yang sama, tidak hanya bau menyengat yang timbul, namun juga penyumbatan aliran di berbagai tempat. Hal itulah yang menjadi awal penyebab terjadinya banjir.

Jika kita bisa merenung lebih jauh, sebenarnya ada hikmah dibalik terjadinya banjir di beraneka tempat. Tuhan seolah-olah menyuruh manusia untuk membersihkan sampah-sampah di sekeliling mereka. Sampah-sampah tersebut telah melukai alam semesta. Sampah juga telah merusak kecantikan pepohonan, bunga-bunga, rerumputan, sungai, dan daratan. Banjir seolah ‘meratakan’ sampah-sampah tersebut di berbagai tempat, hal ini nampak ketika banjir mulai surut, sampah telah banyak berserakan di daratan, di sekitar tempat tinggal manusia. Mau tidak mau, masyarakat harus membersihkan sampah-sampah dan kotoran yang memenuhi rumah dan pekarangan mereka. Tak sedikit dari masyarakat yang mengalami kerugian materiil,mulai dari yang sederhana yakni tembok rumah yang kotor sampai yang lebih kompleks yakni rusaknya alat elektronik rumah tangga dan hilangnya dokumen-dokumen penting.

Bagaimana jika seandainya kitagreen-mission1-276x300 balik kejadian itu dari awal, melalui sebuah tindakan pencegahan? Tentunya masyarakat tahu, penyebab banjir yang utama adalah ketidak-seimbangan lingkungan yang dipengaruhi oleh ulah manusia. Banjir bukanlah bencana alam. Oleh karena itu, dia bisa dicegah. Sebuah langkah sederhana yakni disiplin membuang sampah tidak di sungai atau dimanapun ada aliran air adalah salah satu upaya yang dapat dilakukan masyarakat. Meskipun sederhana, namun kebiasaan ini membutuhkan andil dari seluruh komponen masyarakat.

Syukurlah, telah kita temui banyak duta lingkungan hidup yang bekerja, berkarya, sekaligus mendedikasikan diri terhadap lingkungan sekitar. Mereka tidak hanya orang yang sudah mendapatkan penghargaan di televisi dan event-event peduli lingkungan saja, namun termasuk semua orang yang mau untuk berbuat lebih bagi lingkungan. Beberapa orang ada yang bahkan bersedia untuk menghabiskan waktunya berjam-jam hanya untuk membersihkan sungai, danau, dan selokan di sekitar mereka. Bahkan tak sedikit dari beberapa orang tersebut malah bukan warga negara Indonesia melainkan warga berkebangsaan asing.

Ada pula warga masyarakat yang berinisiatif untuk membuat semacam ‘bank sampah’, dimana mereka mengajak masyarakat untuk mengumpulkan sampah-sampah terutama sampah non organik untuk diolah kembali sebelum benar-benar dibuang. Melalui sedikit pelatihan, mereka mampu menyulap aneka barang tak berharga menjadi barang yang dapat dimanfaatkan lagi bahkan menjadi barang yang bernilai tinggi. Sebagai contoh, botol plastik bekas kemasan minuman dapat dijadikan bunga hias, tempat pensil, keranjang, alat penyemprot air, pot bunga, bahkan kalung dan gelang. Dengan sedikit sentuhan artistik yang menyatukan keindahan dan rasa, maka terciptalah suatu karya yang belum pernah dibuat sebelumnya.

Inisiatif lain yang tak kalah mengagumkan adalah dibentuknya Koperasi, Unit Usaha, BMT dan bentuk lembaga simpan pinjam lain hanya dari sampah. Cara-cara yang diberlakukan pun cukup unik, namun ternyata sangat bermanfaat dalam menopang perekonomian warga. Sebagai gambaran, ada sebuah Koperasi Simpan Pinjam yang bisa meminjamkan sejumlah uang kepada anggotanya yang sebagian besar adalah warga desa yang belum berkecukupan. Tiap bulan mereka tetap harus mengangsur pinjaman itu, namun angsurannya tidak berupa uang melainkan berupa sampah! Luar biasa bukan? Nah, untuk apa sampah-sampah tersebut? Ternyata Koperasi tersebut juga memberdayakan masyarakatnya untuk mengolah sampah (seperti yang diuraikan di atas) menjadi barang-barang yang bernilai seni.

Oleh karena itu, mengapa kita tidak ikut memulai suatu hal kecil namun berdampak besar bagi masyarakat? Sudah banyak contoh-contoh yang diteladankan oleh beberapa orang yang berjiwa besar seperti di atas. Langkah perubahan itu tidak harus besar dan rumit, justru sebuah inovasi besar malah berawal dari tindakan yang sederhana, yang seharusnya bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Manusia adalah khalifah di muka bumi, yang berkewajiban untuk menjaga alam sekitar untuk kemaslahatan umat manusia itu sendiri. Maka, Mengapa tidak kita mulai dari sekarang perubahan itu?

20/12/13

SUDUT PANDANG : SISI LAIN TRAGEDI MAUT KERETA API

retrieved from yangpalinganeh.blogspot.comTerlalu peliknya berbagai problema yang dihadapi di Indonesia seolah membuat kita tak pernah henti berhadapan dengan aneka cobaan. Seperti yang kita dengar saat ini di berbagai media cetak dan elektronik, masalah yang baru saja menjadi ‘trending topic’ adalah terjadinya kecelakaan di perlintasan kereta api pasca terulangnya tragedi Bintaro.

Beberapa orang yang memandang sekilas tentang kejadian tersebut pasti sudah punya anggapan dan pendapat masing-masing mengenai kecelakaan kereta api yang merenggut banyak korban jiwa itu. Kemungkinan besar mereka akan berpendapat bahwa kejadian tersebut disebabkan karena kurang telitinya petugas penjaga rel kereta api. Ada pula yang menyayangkan minimnya fasilitas di sekitar palang pintu termasuk kurang berfungsinya palang pintu otomatis secara efektif. Namun, terkadang keteledoran para pemakai jalan saat ingin menyeberang juga tidak dapat dielakkan, apalagi ketika mereka sedang dikejar waktu.

Tentu sudah banyak yang berpendapat mengenai terjadinya kecelakaan tersebut dari orang biasa sampai para ahli. Beberapa pakar menyampaikan bahwa terjadinya hal tersebut salah satunya terjadi karena munculnya efek magnet dari gesekan antara roda dan rel kereta api. Ternyata karena ‘saking’ kencangnya laju kereta, menyebabkan efek magnet terbentuk sampai radius 1.200 meter.  Oleh karena itu, jarak aman suatu kendaraan saat ingin melintas dengan kereta api yang akan lewat adalah 1.200 meter. Itulah sebabnya mengapa sirine di palang perlintasan rel kereta api biasanya sudah berbunyi kurang lebih sekitar 5 menit sebelum kereta melintas. Hal tersebut merupakan pertanda bagi para petugas rel untuk bersiap menutup palang pintu dan para pemakai jalan untuk legih berhati-hati saat akan menyeberang.

Seperti yang telah disampaikan sebelummya, bahwa tak sedikit pula masyarakat yang menyimpulkan bahwa kurang hati-hatinya para pengendara motor merupakan salah satu faktor utama. Meskipun sirine sudah dibunyikan dan palang pintu sudah mulai bergerak turun, ada saja kejadian dimana para pengendara motor nekat menerobos. Jika hal tersebut terjadi, maka kemungkinan besar kecelakaan tak dapat dihindari, mengingat sifat kereta api yang tidak bisa mengerem mendadak dalam jarak dekat.

Selain itu, ada pula yang menghubungkan kemungkinan terjadinya hal tersebut dengan jadwal keberangkatan kereta yang kadang terlambat yang kebanyakan disebabkan oleh hal teknis. Mereka berasumsi bahwa kemungkina hal tersebut bisa mempengaruhi koordinasi dengan petugas bagian pemberangkatan dengan petugas penjaga palang pintu di lapangan.

sumber : kristya-kembara.blogspot.com

Namun, di luar semua anggapan-anggapan mengenai apa dan siapa yang menyebabkan hal tersebut terjadi (kita anggap bahwa semua faktor saling berkaitan), ada satu hal yang menarik yang bisa kita lihat di sini dari sudut pandang masyarakat umum. Hal ini bisa dikaitkan denga tingkat kedislipinan masyarakat Indonesia, karena hal ini terjadi tidak hanya di satu tempat melainkan di berbagai lokasi di Indonesia.

Secara teknis dapat diilustrasikan seperti berikut:

Jika pada saat sirine tanda peringatan bahwa kereta api akan melintas sudah dibunyikan kurang lebih3 – 5 menit sebelum kereta melintas, maka para pengguna motor akan sudah bisa memperkirakan kapan kereta itu akan melintas. Jika ingin detail lagi, mereka dapat pula memperkirakan jarak kereta tersebut dari posisi mereka berdiri saat itu. Misalkan laju kereta adalah 100 km/ jam, maka jarak kereta ketika sirine dibunyikan secara matematis adalah 5/60 dikalikan 100, yaitu 8,3 km. Jika sirine dibunyikan 3 menit sebelum kereta tiba, maka jaraknya adalah 3/60 dikalikan 100, hasilnya yaitu 5 km.  Jika pada menit pertama dan kedua para pengendara masih berani melintas, maka kita bisa perkirakan sendiri jarak sisa kereta tersebut dengan pengendara tersebut.

Namun, dari kebiasaan umum yang terjadi adalah, banyak dari pengendara yang kurang memperhitungkan hal tersebut sebagai salah satu bentuk kewaspadaan mereka. Jika kendaraan di depan mereka berani melintas maka kendaraan yang di belakangnya akan ‘ikut-ikutan’. Mungkin pemikiran seperti ini ‘sedikit benar’ bagi para pengguna sepeda motor, namun bagaimana jika hal ini terjadi pada para sopir kendaraan jumbo seperti truk trailer dan truk pengangkut bahan bakar? Secara ukuran, berat muatan, dan kecepatan pun tentu akan lebih memakan resiko yang lebih besar. Mungkin kebanyakan mereka yang berani menerobos palang perlintasan mempunyai alasan karena sudah dikejar waktu atau tidak sabar jika harus menunggu terlalu lama.

 Para pengendara tersebut kemungkinan besar akan berhenti jika palang pintu sudah benar-benar tertutup. Namun, bagaimana jika pada waktu tertentu, palang pintu tersebut tidak berfungsi? Satu-satunya penanda adalah sirine tanda peringatan yang sudah dibunyikan dan sebagai tambahan mungkin adalah himbauan langsung dari petugas penjaga palang pintu. Akan tetapi, jika dilihat dari banyaknya peristiwa kecelakaan yang terjadi, kemungkinan besar para pengendara tersebut hanya mengandalkan palang pintu saja. Tentulah hal tersebut sanagt beresiko karena banyak kemungkinan terjadinya hambatan di lapangan seperti yang sudah diulas sebelumnya.

Jika kita bisa menarik seutas benang merah dari berbagai kejadian tersebut, seandainya saja budaya disiplin sudah mengakar kuat di kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, alangkah lebih mudahnya berbagai mala-petaka dapat dihindari. Jika kita disiplin dalam me-manage waktu, kita tidak akan terburu-buru dalam mengejar target. Jika kita tidak terburu-buru untuk mengejar target, maka tentunya kita akan lebih sabar dan enjoy ketika berkendara. Jika kita sudah santai ketika berkendara, kita bisa lebih fokus, dan keinginan-keinginan untuk menerobos lampu merah ataupun palang perlintasan rel kereta api akan lebih sedikit. Dengan begitu, kita masih bisa berpikir dengan tenang dalam mengendara karena keluarga kita menanti di rumah

Semoga masyarakat kita kian hari dapat lebih bijaksana lagi dalam menyikapi berbagai masalah, tidak mudah menyalahkan orang lain, tidak ‘grusa-grusu’, dan disiplin; dengan harapan kualitas  bangsa Indonesia akan semakin baik lagi di masa mendatang.