Home » article » SUDUT PANDANG : SISI LAIN TRAGEDI MAUT KERETA API

SUDUT PANDANG : SISI LAIN TRAGEDI MAUT KERETA API

retrieved from yangpalinganeh.blogspot.comTerlalu peliknya berbagai problema yang dihadapi di Indonesia seolah membuat kita tak pernah henti berhadapan dengan aneka cobaan. Seperti yang kita dengar saat ini di berbagai media cetak dan elektronik, masalah yang baru saja menjadi ‘trending topic’ adalah terjadinya kecelakaan di perlintasan kereta api pasca terulangnya tragedi Bintaro.

Beberapa orang yang memandang sekilas tentang kejadian tersebut pasti sudah punya anggapan dan pendapat masing-masing mengenai kecelakaan kereta api yang merenggut banyak korban jiwa itu. Kemungkinan besar mereka akan berpendapat bahwa kejadian tersebut disebabkan karena kurang telitinya petugas penjaga rel kereta api. Ada pula yang menyayangkan minimnya fasilitas di sekitar palang pintu termasuk kurang berfungsinya palang pintu otomatis secara efektif. Namun, terkadang keteledoran para pemakai jalan saat ingin menyeberang juga tidak dapat dielakkan, apalagi ketika mereka sedang dikejar waktu.

Tentu sudah banyak yang berpendapat mengenai terjadinya kecelakaan tersebut dari orang biasa sampai para ahli. Beberapa pakar menyampaikan bahwa terjadinya hal tersebut salah satunya terjadi karena munculnya efek magnet dari gesekan antara roda dan rel kereta api. Ternyata karena ‘saking’ kencangnya laju kereta, menyebabkan efek magnet terbentuk sampai radius 1.200 meter.  Oleh karena itu, jarak aman suatu kendaraan saat ingin melintas dengan kereta api yang akan lewat adalah 1.200 meter. Itulah sebabnya mengapa sirine di palang perlintasan rel kereta api biasanya sudah berbunyi kurang lebih sekitar 5 menit sebelum kereta melintas. Hal tersebut merupakan pertanda bagi para petugas rel untuk bersiap menutup palang pintu dan para pemakai jalan untuk legih berhati-hati saat akan menyeberang.

Seperti yang telah disampaikan sebelummya, bahwa tak sedikit pula masyarakat yang menyimpulkan bahwa kurang hati-hatinya para pengendara motor merupakan salah satu faktor utama. Meskipun sirine sudah dibunyikan dan palang pintu sudah mulai bergerak turun, ada saja kejadian dimana para pengendara motor nekat menerobos. Jika hal tersebut terjadi, maka kemungkinan besar kecelakaan tak dapat dihindari, mengingat sifat kereta api yang tidak bisa mengerem mendadak dalam jarak dekat.

Selain itu, ada pula yang menghubungkan kemungkinan terjadinya hal tersebut dengan jadwal keberangkatan kereta yang kadang terlambat yang kebanyakan disebabkan oleh hal teknis. Mereka berasumsi bahwa kemungkina hal tersebut bisa mempengaruhi koordinasi dengan petugas bagian pemberangkatan dengan petugas penjaga palang pintu di lapangan.

sumber : kristya-kembara.blogspot.com

Namun, di luar semua anggapan-anggapan mengenai apa dan siapa yang menyebabkan hal tersebut terjadi (kita anggap bahwa semua faktor saling berkaitan), ada satu hal yang menarik yang bisa kita lihat di sini dari sudut pandang masyarakat umum. Hal ini bisa dikaitkan denga tingkat kedislipinan masyarakat Indonesia, karena hal ini terjadi tidak hanya di satu tempat melainkan di berbagai lokasi di Indonesia.

Secara teknis dapat diilustrasikan seperti berikut:

Jika pada saat sirine tanda peringatan bahwa kereta api akan melintas sudah dibunyikan kurang lebih3 – 5 menit sebelum kereta melintas, maka para pengguna motor akan sudah bisa memperkirakan kapan kereta itu akan melintas. Jika ingin detail lagi, mereka dapat pula memperkirakan jarak kereta tersebut dari posisi mereka berdiri saat itu. Misalkan laju kereta adalah 100 km/ jam, maka jarak kereta ketika sirine dibunyikan secara matematis adalah 5/60 dikalikan 100, yaitu 8,3 km. Jika sirine dibunyikan 3 menit sebelum kereta tiba, maka jaraknya adalah 3/60 dikalikan 100, hasilnya yaitu 5 km.  Jika pada menit pertama dan kedua para pengendara masih berani melintas, maka kita bisa perkirakan sendiri jarak sisa kereta tersebut dengan pengendara tersebut.

Namun, dari kebiasaan umum yang terjadi adalah, banyak dari pengendara yang kurang memperhitungkan hal tersebut sebagai salah satu bentuk kewaspadaan mereka. Jika kendaraan di depan mereka berani melintas maka kendaraan yang di belakangnya akan ‘ikut-ikutan’. Mungkin pemikiran seperti ini ‘sedikit benar’ bagi para pengguna sepeda motor, namun bagaimana jika hal ini terjadi pada para sopir kendaraan jumbo seperti truk trailer dan truk pengangkut bahan bakar? Secara ukuran, berat muatan, dan kecepatan pun tentu akan lebih memakan resiko yang lebih besar. Mungkin kebanyakan mereka yang berani menerobos palang perlintasan mempunyai alasan karena sudah dikejar waktu atau tidak sabar jika harus menunggu terlalu lama.

 Para pengendara tersebut kemungkinan besar akan berhenti jika palang pintu sudah benar-benar tertutup. Namun, bagaimana jika pada waktu tertentu, palang pintu tersebut tidak berfungsi? Satu-satunya penanda adalah sirine tanda peringatan yang sudah dibunyikan dan sebagai tambahan mungkin adalah himbauan langsung dari petugas penjaga palang pintu. Akan tetapi, jika dilihat dari banyaknya peristiwa kecelakaan yang terjadi, kemungkinan besar para pengendara tersebut hanya mengandalkan palang pintu saja. Tentulah hal tersebut sanagt beresiko karena banyak kemungkinan terjadinya hambatan di lapangan seperti yang sudah diulas sebelumnya.

Jika kita bisa menarik seutas benang merah dari berbagai kejadian tersebut, seandainya saja budaya disiplin sudah mengakar kuat di kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, alangkah lebih mudahnya berbagai mala-petaka dapat dihindari. Jika kita disiplin dalam me-manage waktu, kita tidak akan terburu-buru dalam mengejar target. Jika kita tidak terburu-buru untuk mengejar target, maka tentunya kita akan lebih sabar dan enjoy ketika berkendara. Jika kita sudah santai ketika berkendara, kita bisa lebih fokus, dan keinginan-keinginan untuk menerobos lampu merah ataupun palang perlintasan rel kereta api akan lebih sedikit. Dengan begitu, kita masih bisa berpikir dengan tenang dalam mengendara karena keluarga kita menanti di rumah

Semoga masyarakat kita kian hari dapat lebih bijaksana lagi dalam menyikapi berbagai masalah, tidak mudah menyalahkan orang lain, tidak ‘grusa-grusu’, dan disiplin; dengan harapan kualitas  bangsa Indonesia akan semakin baik lagi di masa mendatang.

Posted in article, Opinion