Home » Greentrepreneur » GreenTrepreneur : Gerakan Peduli Lingkungan

GreenTrepreneur : Gerakan Peduli Lingkungan

lets-go-green-the-archangel-collection-1600by1200-300x225Pernahkah Anda melihat dan merasa risih, menyayangkan, ataupun geram terhadap keadaan lingkungan di sekitar rumah kita begitu memprihatinkan? Banyak kita jumpai di sungai-sungai, kolong jembatan, gorong-gorong, lapangan, bahkan pekarangan rumah, berbagai macam sampah dan limbah mencemari lingkungan. Sungguh hal tersebut sangat disayangkan, dan kita sebagai umat Muslim seharusnya ikut menyikapi hal ini.

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa adanya sampah dan limbah dapat berpengaruh luas terhadap kehidupan manusia. Pengaruh-pengaruh tersebut ibarat efek domino yang saling mempengaruhi. Pernahkah kita memikirkan dampak panjang dari tindakan kecil, semisal ada satu orang yang tinggal di dekat sungai dan terbiasa membuang sampah di sungai? Misalkan jika orang tersebut dalam sehari rata-rata membuang 1 kilogram sampah non organik bungkus plastik, botol kemasan, pecahan kaca, dll) maka dalam seminggu akan ada 7 kilogram sampah di bibir sungai yang sudah menumpuk. Jika hujan tiba, sungai akan meluap, dan sampah-sampah tersebut akan hanyut terbawa arus sungai. Sebagian sampah tersebut jika tidak hanyut terbawa arus sungai, akan menumpuk dan menggunung di tempat tersebut. Jika dibiarkan, maka akan timbul berbagai penyakit, salah satunya adalah penyakit kulit dan penyakit pes yang ditularkan oleh tikus.

Dampak lanjutan yang lebih panjang dari kebiasaan membuang sampah adalah terjadinya banjir. Sampah-sampah plastik beraneka bentuk, kaleng, popok bayi, kasur bekas, kayu-kayu lapuk, botol minuman, bahkan ada pula satu kresek besar berisi campuran sampah yang telah membusuk banyak terlihat mengapung di aliran sungai- sungai di sekitar kita. Bayangkan jika hampir sebagian besar orang mempunyai kebiasaan yang sama, tidak hanya bau menyengat yang timbul, namun juga penyumbatan aliran di berbagai tempat. Hal itulah yang menjadi awal penyebab terjadinya banjir.

Jika kita bisa merenung lebih jauh, sebenarnya ada hikmah dibalik terjadinya banjir di beraneka tempat. Tuhan seolah-olah menyuruh manusia untuk membersihkan sampah-sampah di sekeliling mereka. Sampah-sampah tersebut telah melukai alam semesta. Sampah juga telah merusak kecantikan pepohonan, bunga-bunga, rerumputan, sungai, dan daratan. Banjir seolah ‘meratakan’ sampah-sampah tersebut di berbagai tempat, hal ini nampak ketika banjir mulai surut, sampah telah banyak berserakan di daratan, di sekitar tempat tinggal manusia. Mau tidak mau, masyarakat harus membersihkan sampah-sampah dan kotoran yang memenuhi rumah dan pekarangan mereka. Tak sedikit dari masyarakat yang mengalami kerugian materiil,mulai dari yang sederhana yakni tembok rumah yang kotor sampai yang lebih kompleks yakni rusaknya alat elektronik rumah tangga dan hilangnya dokumen-dokumen penting.

Bagaimana jika seandainya kitagreen-mission1-276x300 balik kejadian itu dari awal, melalui sebuah tindakan pencegahan? Tentunya masyarakat tahu, penyebab banjir yang utama adalah ketidak-seimbangan lingkungan yang dipengaruhi oleh ulah manusia. Banjir bukanlah bencana alam. Oleh karena itu, dia bisa dicegah. Sebuah langkah sederhana yakni disiplin membuang sampah tidak di sungai atau dimanapun ada aliran air adalah salah satu upaya yang dapat dilakukan masyarakat. Meskipun sederhana, namun kebiasaan ini membutuhkan andil dari seluruh komponen masyarakat.

Syukurlah, telah kita temui banyak duta lingkungan hidup yang bekerja, berkarya, sekaligus mendedikasikan diri terhadap lingkungan sekitar. Mereka tidak hanya orang yang sudah mendapatkan penghargaan di televisi dan event-event peduli lingkungan saja, namun termasuk semua orang yang mau untuk berbuat lebih bagi lingkungan. Beberapa orang ada yang bahkan bersedia untuk menghabiskan waktunya berjam-jam hanya untuk membersihkan sungai, danau, dan selokan di sekitar mereka. Bahkan tak sedikit dari beberapa orang tersebut malah bukan warga negara Indonesia melainkan warga berkebangsaan asing.

Ada pula warga masyarakat yang berinisiatif untuk membuat semacam ‘bank sampah’, dimana mereka mengajak masyarakat untuk mengumpulkan sampah-sampah terutama sampah non organik untuk diolah kembali sebelum benar-benar dibuang. Melalui sedikit pelatihan, mereka mampu menyulap aneka barang tak berharga menjadi barang yang dapat dimanfaatkan lagi bahkan menjadi barang yang bernilai tinggi. Sebagai contoh, botol plastik bekas kemasan minuman dapat dijadikan bunga hias, tempat pensil, keranjang, alat penyemprot air, pot bunga, bahkan kalung dan gelang. Dengan sedikit sentuhan artistik yang menyatukan keindahan dan rasa, maka terciptalah suatu karya yang belum pernah dibuat sebelumnya.

Inisiatif lain yang tak kalah mengagumkan adalah dibentuknya Koperasi, Unit Usaha, BMT dan bentuk lembaga simpan pinjam lain hanya dari sampah. Cara-cara yang diberlakukan pun cukup unik, namun ternyata sangat bermanfaat dalam menopang perekonomian warga. Sebagai gambaran, ada sebuah Koperasi Simpan Pinjam yang bisa meminjamkan sejumlah uang kepada anggotanya yang sebagian besar adalah warga desa yang belum berkecukupan. Tiap bulan mereka tetap harus mengangsur pinjaman itu, namun angsurannya tidak berupa uang melainkan berupa sampah! Luar biasa bukan? Nah, untuk apa sampah-sampah tersebut? Ternyata Koperasi tersebut juga memberdayakan masyarakatnya untuk mengolah sampah (seperti yang diuraikan di atas) menjadi barang-barang yang bernilai seni.

Oleh karena itu, mengapa kita tidak ikut memulai suatu hal kecil namun berdampak besar bagi masyarakat? Sudah banyak contoh-contoh yang diteladankan oleh beberapa orang yang berjiwa besar seperti di atas. Langkah perubahan itu tidak harus besar dan rumit, justru sebuah inovasi besar malah berawal dari tindakan yang sederhana, yang seharusnya bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Manusia adalah khalifah di muka bumi, yang berkewajiban untuk menjaga alam sekitar untuk kemaslahatan umat manusia itu sendiri. Maka, Mengapa tidak kita mulai dari sekarang perubahan itu?

20/12/13

Posted in Greentrepreneur and tagged as